oleh

Surplus Politisi VS Defisit Negarawan

OPINI, Sulawesiekspos.com – Politik praktis adalah bagian dari ruang publik yang tidak pernah sepi, selalu saja ada kegaduhan yang muncul didalamnya, bising adalah ciri khasnya. Ragam isu diperdebatkan, dari substansi hingga sekunder, dari yang penting hingga tidak perlu. Kehadiran politisi merupakan keniscayaan dalam negara demokrasi, bahkan dalam negara non demokrasi kehadiran politisi adalah sesuatu yang pasti. Menjadi politisi bukan perkara hina, politik bukan barang yang harus dijauhi, justru seharusnya setiap orang punya pemahaman politik, terlepas dari kadarnya yang berbeda, seorang politisi seharusnya memiliki integritas, integritas adalah barang paling langka dan mahal dalam dunia politik.

Politisi seharusnya memiliki sifat kenegarawanan dalam dirinya, idealnya seorang politisi juga sekaligus seorang negarawan. Demokrasi dalam sebuah negara akan maju bila seorang politisi pada saat yang sama bisa bertindak sebagai negarawan. Menjadi politisi an sich dengan mengabaikan sifat kenegarawanan menyebabkan seseorang menjadikan tampuk kekuasaan sebagai satu-satunya tujuan, tidak perduli tujuan tersebut ditempuh dengan benar atau salah, cara-cara machiavelian akan mudah digunakan tanpa pertimbangan apapun, individu atau kelompok yang menempuh cara ini tidak patut disebut sebagai politisi, mereka lebih menyerupai bandit yang membajak demokrasi demi kepentingannya.

Pada sisi yang berbeda, seorang negarawan selalu menjadikan kemaslahatan rakyat dan keselamatan negara sebagai pertimbangan utama dalam bertindak, seorang negarawan tidak akan ragu mengorbankan kepentingan pribadi dan golongannya demi memprioritaskan kemaslahatan rakyat, negarawan selalu tampil memberi contoh pikiran dan sikap saat negara didera masalah, negarawan adalah pribadi yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, negara yang dikelola berdasarkan sifat kenegarawanan tidak akan pernah mengintimidasi rakyatnya, baik psikis terlebih fisik, kita merindukan model negara seperti ini, apakah ini harapan absurd? tidak.

Setelah bergulirnya reformasi, Indonesia mengalami surplus politisi, bersamaan dibukanya kerang kebebasan, peluang menjejali dunia politik praktis semakin terbuka bagi semua kalangan, meningkatnya jumlah politisi tidak berbanding lurus dengan kuantitas negarawan, kita justru mengalami defisit negarawan, semakin sedikit figur yang bertindak berdasarkan nurani dan akal sehat demi rakyat dan negara, banyak politisi lebih tertarik berburu rente kekuasaan dibandingkan memikirkan nasib bangsa.

Memang tidak mudah menjadi negarawan, terlebih saat godaan kekuasaan semakin menggila, seorang negarawan biasanya telah ditempa dengan kerasnya dunia politik, dan mereka berhasil melalui tempaan itu, nama-nama seperti Muhammad Natsir dan Muhammad Hatta adalah negarawan top yang pernah dimiliki bangsa ini, keduanya selalu siap membantu bangsa saat diminta, meskipun yang memintanya adalah sosok yang pernah mempersekusinya di masa lalu, sanubari mereka tidak menyisakan ruang bagi sifat dendam, selain keduanya masih banyak sosok negarawan lain yang menghibahkan diri untuk bangsa ini. Kita merindukan sosok negarawan terus hidup dalam ruang kebangsaan terkini, tidak harus menunggu, lebih baik memastikan sosok di masa mendatang itu adalah kita, jadi bersiaplah, semua dari kita berpeluang menjadi negarawan, sepanjang bisa menundukkan ego pribadi dan kelompoknya.

Penulis : Zaenal Abidin Riam

loading...
           

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed