oleh

Tak Penuhi Syarat KONI Sulsel, Atlet Menembak Tak Lolos ke PON XX/Papua 2020

MAKASSAR, SulawesiEkspos.com — Atlet cabang olahraga Menembak tidak lolos ke PON XX/2020 Papua karena tidak memenuhi syarat yang ditetapkan KONI Sulawesi Selatan sesuai hasil Rapat Anggota KONI Sulsel 2018 dan Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Sulsel 2019 yang diikuti oleh seluruh Pengprov Cabor, termasuk Perbakin, organisasi cabor Menembak.

Pada Rapat Anggota dan Musorprov tersebut ditetapkan bahwa tim bayangan Kontingen Sulsel pada PON XX 2020 Papua harus memenuhi beberapa kriteria.

Diantaranya, atlet yang lolos pada cabor perorangan pada Pra-PON Nasional minimal menduduki peringkat VI dan peringkat IV bagi cabang olahraga beregu. Meraih peringkat I dan II pada cabang perorangan dan peringkat I cabor beregu pada Pra-PON Wilayah. Penetapan peringkat ini dilakukan setelah dianalisis atlet-atlet cabor tersebut dapat memperoleh medali pada PON XX/2020 Papua.

“Atlet yang dinyatakan lolos berdasarkan jatah atau kuota (wild card) dari PB/PP cabor yang bersangkutan tidak masuk dalam Kontingen Bayangan Sulsel dan tidak diikutkan pada PON XX 2020 Papua,” kata Jubir KONI Sulsel M. Dahlan Abubakar ketika dihubungi oleh Sulawesiekspos, Senin (20/4/2020).

Oleh sebab itu, atlet cabang-cabang olahraga yang dinyatakan tidak lolos jelas tidak memenuhi syarat yang ditetapkan Rapat Anggota KONI 2018 dan Musorprov 2019.

Hal ini diputuskan berdasarkan pengalaman pada PON sebelumnya, bahwa jika KONI Sulsel tidak menetapkan kriteria tersendiri berupa berdasarkan peringkat, bukan berdasarkan kuota yang lazim dilakukan, maka banyak atlet yang setelah mengikuti 1-2 pertandingan harus jadi penggembira atau angkat kopor.

“Jadi, tidak hanya Menembak, cabang-cabang olahraga lain pun yang tidak memenuhi syarat tersebut, masuk kategori tidak lolos jadi kontingen Sulsel pada PON XX/2020 Papua,” imbuh Dahlan.

Sebelumnya, salah satu atlet menembak, Sri Handayani mempermasalahkan namanya yang tidak diusulkan dan diikutkan dalam PON XX di Papua.

“Saya merasa lebih berprestasi dan lebih unggul namun bukan saya yang diusulkan, nah ada apa ini,” ungkap Sri.

Di tempat yang berbeda, Koordinator Divisi Pengaduan Masyarakat dan Kebijakan Publik LSM PERAK Sulsel, Ditho Arsandy mengatakan, sempat sheering dengan atlet Sri Handayani yang merasa dianak tirikan dan diabaikan oleh pengurus cabor yang digelutinya.

“Kami juga sudah dengar aduannya, KONI Sulsel ini mengelola anggaran pemerintah dan kami juga akan lakukan kontrol sosial dan pengawasan di organisasi tersebut. Karena selama ini KONI Sulsel kami nilai tidak transparan terkait pengelolaan anggarannya,” tegas Ditho.

Iapun menyayangkan kinerja KONI Sulsel dan pengurus cabor yang tidak mampu meloloskan atletnya untuk berlaga di PON XX Papua.

“Kami akan coba usut dan melakukan investigasi ke dalam sejauh mana kucuran dana pemerintah untuk KONI Sulsel dan Pengurus Cabor sejauh ini,” pungkasnya.

(*)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed