oleh

Laporan Mantan Tunangan Kajari Tator Resmi Diproses Kembali Kejati Sulsel

MAKASSAR, Sulawesiekspos.com – Laporan pengawasan Kejati yang dilayangkan oleh mantan tunangan Kajari Tana Toraja, Romauli Sihombing kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tana Toraja, Jefri Penanging Makapedua resmi diproses kembali.

Laporan wanita berkulit putih tersebut masuk pada tanggal 22 Juni 2018 sebelumnya mandek ditengah jalan, padahal ditanggal 20 Juli 2018 beberapa saksi pelapor telah dipanggil untuk melakukan klarifikasi.

Dugaan penipuan yang dilakukan oleh Kepala Kajari Tator menambah citra buruk birokrasi kejaksaan di Tana Toraja yang juga banyaknya penanganan kasus korupsi yang jalan ditempat.

Saat ditemui Sulawesiekspos, Senin (27/01/2020) Uli sapaan akrabnya menceritakan laporannya sempat ditutup pada bulan Desember 2018 oleh Kejati Sulsel, dan dipaksa menandatangani pernyataan penutupan laporan yang diketahuinya.

“Terakhir, saya tanya bagaiamna perkembangan laporan saya? Namun saya diusir oleh Aswas Wito kemudian Vina pegawai honor memberi tahu bahwa laporan saya sudah ditutup. Jadi tidak perlu lagi kaka tanya-tanya ke kejati. saya kasihan dengan kaka (ucap Vina). Karena laporan itu bocor, saya dipaksa membuat pernyataan bahwa laporan itu ditutup dan sudah mengetahuinya. Itu terpaksa saya buat karna Vina diancam pak Tarmizi pada saat itu menjabat Kejati Sulsel (sebelum pak Firdaus) akan dilaporkan kepolisi. Karna itu merupakan dokumen negara. Jadi terpaksa saya membuatnya. Tapi saya bertekad tidak menyerah, dan tetap akan memperjuangkan laporan itu, hingga akhirnya kuputuskan ke kopi jhoni minta bantuan hukum di pak Hotman” ceritanya kesal.

Seiring berjalannya waktu karna tidak ada progres dari Kejati Sulsel akan kasusnya, akhirnya di bulan April 2019, Uli ke Jakarta mengadu meminta bantuan hukum ke Hotman Paris di Kopi Jhoni yang akhirnya kasusnya viral diseluruh kejaksaan se Indonesia.

“Saya tidak mau tinggal diam, saya mau keadilan dan ingin membuktikan ke masyarakat agar tidak memandang remeh seorang perempuan. Saya ke Jakarta sendiri, 3 hari tungguin pak Hotman di Kopi Jhoni. Akhirnya Tuhan dengar doa saya dan dipertemukan dengan pak Hotman yang siap bantu saya” jelasnya dengan meneteskan air mata.

Bulan Juni 2019 kemarin kuasa hukum Uli telah melaporkan Kajari Tator ke Jamwas Kejagung dan laporannya diambil alih Kejagung yang sebelumnya mandek di Kejati Sulsel. Namun karna pelapor pulang ke Makassar dan terlapor (Kajari Tator) masi dibawah naungan Kejati Sulsel maka berkas dikembalikan dan diperintahkan Kejagung naik inspeksi kasus. Di bulan Agustus 2019 laporan resmi dibuka kembali.

“Saya sangat senang dan bersyukur karna Tuhan bantu saya dengan caranya sendiri, semua dimudahkan sayap tetap melanjutkan kuliah dan laporanku juga resmi dibuka kembali. Kemarin 12 Desember saya dipanggil sebagai saksi dan terlebih dahulu siterlpor sudah diperiksa” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya kalau kepala Kajari Tator, Jefri Penangin Makapedua pernah berhubungan dekat dengan Romauli Sihombing bahkan telah melamarnya di Medan dan berjanji akan menikahinya juga membiayai kuliah S2 nya untuk jadi notaris. Namun seiring berjalannya waktu perilaku Jefri berubah dan tidak merealisasikan janji-janjinya bahkan meninggalkan wanita itu secara kejam.

Pihak Kejati Sulsel, M. Yusuf Syahriar SH. MHum saat dimintai keterangan via telepon tidak merespon, berkali-kali ketua tim Kejati Sulsel yang menangani laporan mantan tunangan Kajari Tator itu dichat pesan pribadi namun memilih bungkam perihal kasus laporan tersebut.

“Nda mau itu bang mereka kasi klarifikasi, kena tegur pusat itu, Kajari Tator juga itu tidak akan ada apalagi sudah mau jatuh sanksi dari pusat. Saya lakukan ini semua karna cuman mau keadilan saya seorang perempuan hidup seorang diri di Makassar saya mau masyarakat berani dan tidak malu jika ada yang mengalami kasus kaya gini, jangan mau menyerah dan berkaca dari saya” tutupnya menangis.

loading...
           

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed